Perbedaan itu Rahmat

5 Sep

 

Allah menciptakan segala sesuatu sangat beragam. Tidak ada sesuatupun di dunia ini yang sama persis, walaupun itu saudara kandung yang terlahir kembar dan semua yang Allah ciptakan pasti ada gunanya serta tidak ada yang sia-sia. Kita belum tahu hikmah atau manfaatnya yang pasti menganggap sesuatu itu tentunya akan sia-sia atau tidak ada manfaatnya. Seiring dengan bertambahnya usia dan ilmu yang kita dapati, terkadang kita baru menyadari bahwa segala sesuatu itu ada manfaatnya, dan akhirnya terlontarlah suatu ungkapan kalimat Toyyibah … Subhanallah dari lisan kita bahwa segala sesuatu yang Allah ciptakan tidak  percuma, dimana semua nya sudah di-disain oleh pemilik jagat raya ini Allah SWT.

Pasangan suami istripun Allah ciptakan saling melengkapi dan tidak ada yang paling sempurna diantara keduanya. Suami membutuhkan istri, begitupun istri membutuhkan suami yang saling melengkapi. Kita semua terlahir ke dunia ini pun hasil kerja sama dari kedua orang tua kita melalui sebuah proses pernikahan yang Allah fasilitasi guna menyalurkan kebutuhan naluri manusia yang halal. Tak terpikirkan oleh kita bahwa akan kemanakah sel sperma akan diletakkan bila tidak ada rahim wanita yang menampung sel telur. Begitu pun rahim wanita yang menampung sel telur, tidak dapat dibuahi apabila tidak ada sel sperma yang masuk. Tentu keduanya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Sesuai dengan hadist nabi yang mengatakan “perbedaan itu rahmat”.

Pelaksanaan Idul Fitri yang baru kita lalui rayakan bersama,  ada yang 1 Syawal nya jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 dan ada pula yang merayakannya pada hari Rabu, 31 Agustus 2011. Itu semua adalah kenyataan yang harus kita hadapi dengan pikiran yang sehat. Bagi yang merayakan hari Idul Fitri jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011, tentunya harus tetap menghormati mereka yang merayakan Idul Fitri hari Rabu 31 Agustus. Janganlah perbedaan itu dijadikan masalah apalagi menjadi sumber perpecahan umat. Pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011. Marilah kita hargai pendapat pemerintah itu, jangan kita mencemoohkannya. Bukankah Nabi Muhammad tidak pernah berkata yang tidak baik? …

Semua ucapannya bagai rangkaian mutiara yang tak bertepi. Islam sebagai agama yan rahmatan lil ‘alamiin menjunjung tinggi pendapat setiap orang. Janganlah merasa diri paling benar, karena sesungguhnya Allah-lah yang paling tahu kebenaran itu.

Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat yang mempunyai banyak perbedaan-perbedaan, misalnya sholat subuh, ada yang menggunakan do’a qunut dan ada juga yang tidak. Silahkan mana yang kita yakini sesuai dengan ilmunya. Jangan karena tidak menggunakan  qunut terus kita berjamaah pindah masjid. Kepada saudara kita yang belum atau tidak menjalankan sholat subuh pun kita tetap diharuskan bersikap baik. Bukankah Allah berfirman di dalam surat Al Hujurat ayat 12 yang berbunyi : “Hai orang-orang beriman,  kami ciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Yang terbaik diantara kamu adalah yang paling bertaqwa”. Semoga kita semua termasuk salah satu diantaranya. Aamiin …

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar Tiada Henti

27 Jun

Sebagian orang beranggapan kalau wanita setelah menikah, maka sudah tidak perlu lagi menuntut ilmu . Apalagi orang tua kita yang berfikiran tidak maju, mereka beranggapan agar kamu (istri) berbakti saja pada pada suamimu, pasti masuk surga.  Padahal Rasul bersabda melalui hadistnya agar kita terus menuntut ilmu, dari buaian hingga liang lahat, bahkan sampai negeri Cina. Ketika pria dan wanita menikah, mereka sebenarnya membawa dua kekuatan yang berbeda. Kekuatan itu jika digabungkan tentunya akan sangat bermanfa’at. Setelah menikah masalah pasti akan bertambah, bagaimana tidak, ketika sebelum menikah saja masalah sudah ada, apalagi sesudah menikah. Ketika kita sudah menikah, berarti kita menyatukan dan menggabungkan dua keluarga besar yang punya aturan dan kebiasaan yang berbeda. Mungkin bagi keluarga besar suami, bermalam di rumah saudara adalah suatu ajaran yang baik karena akan membuat erat satu dengan yang lain. Sedangkan bagi keluarga besar istri bermalam di rumah keluarga saudara itu merepotkan. Begitulah perbedaan cara pandang memang menimbulkan banyak masalah. Akan  tetapi kalau semua di dasarkan dengan iman dan niat berumah tangga dalam rangka  ibadah, pasti ada jalan keluarnya .

Wanita ketika sudah menikah, sebaiknya tidak berhenti menuntut ilmu. Ilmu apa saja yang belum diketahuinya. Ketika mulai mengandung, kita belajar dengan cara membaca buku, atau bertanya kepada orang tua atau yang sudah berpengalaman, bagaimana menjaga kandungan dengan baik. Ketika bayi akan lahir kita juga belajar bagaimana menghadapi kelahiran dan seterusnya perkembangan anak dari umur 0-12 bulan, 1-5 tahun, anak –anak hingga remaja dan dewasa, semua itu ada ilmunya. Apa jadinya jika semua itu tidak menggunakan ilmu. Jika seorang ibu tidak belajar, tapi hanya mengandalkan perasaan saja, yang ada hanya emosi dan tekanan darah yang semakin tinggi.

Ketika anak –anak kita masih kecil, memang di butuhkan waktu dan perhatian  sangat extra  sehingga waktu kita habis tersita untuk memberikan perhatiannya.  Tetapi ketika anak kita beranjak mulai remaja, kita mempunyai banyak waktu yang lebih luang di bandingkan ketika anak kita masih kecil-kecil. Biasanya anak-anak berangkat sekolah pukul 6 pagi dan kembali ke rumah pukul 3 sore hari. Dari pukul 6 pagi hingga pukul 3 sore ada rentang waktu 9 jam. Misalnya kita gunakan untuk memasak dan merapikan rumah 3 jam, sisanya masih 6 jam lagi. Nah sisa waktu inilah yang kita manfa’atkan sebaik-baiknya untuk digunakan menuntut ilmu. Ilmu apa saja yang belum kita miliki. Misalkan kita belum paham isi al-Qu’ran maka kita belajar tafsir atau kajian al-Qur’an di tempat yang benar. Karena jika belajar di tempat yang keliru akan sangat  berbahaya. Atau kita belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, maka kita datang ke majlis–majlis tempat ilmu itu diajarkan . Atau kita ingin belajar memasak untuk usaha catering dan membuat kue untuk di jual ? Atau   kita ingin bisa menjahit baju sendiri ? …, kemudian bila sudah mahir akan membuka butik ? … Atau kita ingin menulis kemudian tulisan itu kita share kepada teman-teman, sehingga orang lain terinspirasi untuk berbuat kebaikan? … Atau kita ingin mengajak orangtua untuk memperbaikai diri ? … Tentunya dimulai dari diri sendiri, “Ibda bi nafsi”  (mulailah dari diri sendiri) sabda Rasul. Atau kegiatan lain apapun yang bersifat positif, yang memberi dampak positif bagi diri, keluarga dan lingkungan sekitar. Bukankah  Rasul bersabda: “Sebaik–baik manusia adalah yang paling banyak manfa’atnya bagi manusia lain. Dan yang paling penting, tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu

Mengurus rumah tangga ibadah, mengurus anak ibadah, mengajar ibadah, belajar juga ibadah. Hidup adalah rangkaian ibadah. Ada ibadah mahdhah (ibadah yang sudah ditentukan tata caranya) seperti sholat, puasa, zakat, haji, juga ada ibadah yang bersifat umum. Semuanya punya nilai pahala di mata Allah. Seperti firman Allah dalam al Qur’an surat al Mujadillah ayat 11 yang bunyinya ”… niscaya Allah akan meninggikan orang–orang yang beriman di antaramu dan orang–orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat . Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “

Umat islam adalah umat yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ayat yang pertama turun adalah  ‘IQRA’ (bacalah). Orang yang menggunakan malam harinya untuk memikirkan ayat –ayat Allah, lebih tinggi nilainya dibandingkan dengan orang yang sholat sunah malam 1000 rakaat. Subhanallah begitu tingginya Allah menghargai orang yang berilmu dan beriman .

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita adalah lebih sering membiarkan waktu luang tanpa kerja dan prestasi apa-apa. Sering kita lihat ibu–ibu ngobrol dari jam 9 pagi sampai sore. Berkumpul di rumah salah satu teman atau di pos keamanan atau juga di bawah pohon yang rindang.  Entah apa yang dibicarakan. Mulai dari pembicaraan rumah tangga masing–masing, suami, anak, kreditan baju, bahkan urusan rumah tangga orang lain. Padahal mereka anggota jamaah majlis taklim. Ada yang sebagai pengurus ataupun anggota, astagfirullah … Tak bosan guru ngaji mereka mengajak jamaah untuk terus memperbaiki diri, karena jatah umur manusia semakin berkurang. Tetapi tetap saja masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Mereka juga sudah tahu tentang kewajiban untuk menutup aurat, tetapi masih saja belum berbusana sesuai syar’i. Berbusana muslim hanya saat menghadiri majlis taklim saja. Ketika mereka ngerumpi di bawah pohon, pakaian mereka seperti orang jahiliyah, ada yang mengenakan blouse you can see, kaos ketat, baju transparant, celana ketat. Kata mereka panas. Tapi lucunya ketua ganknya berbusana baju panjang dan kerudung. Masya Allah ! … Ketika guru ngaji mereka memberi nasehat  baik–baik kepada mereka, mereka menjawab “belum dapat hidayah”.

Satu hari lima kali Allah mengajak kita untuk meraih kemenangan melalui suara azannya “hayya alal fallah …“ Mereka sholat, tapi kadang-kadang tidak sempat, mereka lalai. Yang lebih parah lagi ketua gank mereka sebut saja ibu Susi, yang paling tua usianya diantara mereka, hobbinya ngerocos alias ngerumpi. Baca Qur’annya masih seperti anak SD, kalau dinasehati untuk belajar  lagi memperbaiki bacaan Qur’annya, jawabnya “susah deh”, saya kan sudah tua, capek, ngantuk, sakit gigi dan alasan lainnya. Tapi kalau yang namanya membahas orang lain,  berghibah … nomor satu deh. Padahal dia itu pengurus di sebuah majlis taklim sebagai seksi humas. Memang dia cocok jadi sie humas karena hobbinya jalan dari rumah ke rumah sambil mengomentari orang. Tak beda dengan suaminya, pak Bambang namanya. Pak Bambang punya hobbi yang sama seperti istrinya. Suka ingin tahu urusan orang lain. Biasalah orang jahil, ingin selalu tahu urusan yang sebenarnya bukan urusannya. Pernah suatu ketika pak Bambang bertanya kepada sopir tetangganya, kenapa mobil kijang tetangganya tidak ada ? … Sopir tetangganya menjawab tidak tahu. Tapi terus di kejar kenapa? … kenapa? … Tak mempan dengan pertanyaan suaminya, akhirnya sang istrilah yang bertanya. Bu Susi mulai bertanya  ke sopir tetangganya dengan pertanyaan yang sama. Ya Allah kasihan sekali mereka, sibuk mengurusi urusan yang bukan urusan mereka. kenapa tidak mengurusi diri sendiri ? … Pak Bambang rajin sholat di masjid, rajin juga mengurusi tetangga. Ibu Susi rajin menyampaikan pesan dari majlis taklim, rajin juga menggibah iguru ngaji dan tetangga. Benar firman Allah dalam al Qur’an, bahwa wanita baik–baik berjodoh dengan pria baik–baik. Wanita tidak baik berjodoh dengan pria tidak baik. Semoga kita terhindar dari hal seperti itu. Kasihan sekali bu Susi dengan pak Bambang, Suami istri yang usianya sudah di atas 50 tahun itu dikarunia 2 orang putra dan 2 orang putri serta  4 orang cucu yang lucu –lucu dan sehat. Seharusnya mereka bersyukur kepada Allah dengan banyak beribadah dan belajar memperbaiki  diri. Karena tidak ada manusia yang sempurna.

Pernah suatu hari guru ngajinya menasehati, tentang perangainya selama ini, tapi apa jawab bu Susi ?  … susah dech ustazah kalo sudah kebiasaan.  Memang benar Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak merubah keadaannya sendiri (Q.S. Ar Raad 13 : 11).

Pembaca yang budiman, hidup ini hanya sesaat, manfa’atkan waktu yang sebentar ini dengan sebaik-baiknya. Dunia adalah lapang tempat menanam, kita akan menuainya di akhirat kelak. Siapa yang menanam padi, dia akan menuai padi, siapa yang menanam rumput dia akan menuai rumput. Tidak mungkin menanam rumput, menuai mangga.

Allah berfirman: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang–orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”  (Q.S. At Tawbah 9 : 105).

 

Hikmah Dibalik Musibah

27 Jun

Empat tahun yang lalu bu Sukma terkena serangan jantung. Tiba-tiba,   ketika hendak tidur malam setelah senam, ia sulit bernafas. Tangannya kaku, kakinya dingin dan sulit digerakkan. Langsung ia ingat kematian, mungkin akan segera menjemputnya. Padahal ia belum siap dan memang manusia tidak akan pernah siap. Usia bu Sukma ketika itu belum genap empat puluh enam tahun. Usia tergolong muda untuk terkena serangan jantung. Tapi bu Sukma masih mengucapkan alhamdullillah ketika itu, karena ketika kejadian suaminya berada di sampingnya. Kebetulan hari itu hari libur. Suami bu Sukma langsung membawanya ke rumah sakit terdekat dengan kediamannya. Dengan hati yang bercampur aduk, takut, gelisah dan sebagainya, tapi dibuat setenang mungkin, pak Hatta suami bu Sukma memacu kendaraannya ke arah sebuah rumah sakit swasta di daerah Pondok Indah. Alhamdullillah hari itu jalan raya tergolong lenggang, mungkin karena hari minggu dan sudah malam pula, sekitar jam sepuluh.

Tiga puluh menit kemudian, tibalah bu Sukma dan suaminya, di rumah sakit. Petugas unit gawat darurat langsung membawa bu Sukma ke ruang periksa. Bu Sukma teriak-teriak minta segera diberikan oksigen karena tidak kuat menahan sesak napas dari rumah sampai tiba di rumah sakit. Petugas langsung memberinya oksigen, dan segera dokter jaga memeriksanya. Dokter memeriksa dengan teliti keadaan bu Sukma. Juga diambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium, bagaimana kadar kolesterol dalam darahnya. Di dalam hatinya, bu Sukma berdo’a , kiranya Allah memberitahukan apa penyakit yang dideritanya. Ia sadar, bahwa Allah tidak menguji  hambanya melebihi kemampuannya. Ia juga ingat nasehat guru ngajinya, bahwa bila seseorang diberi penyakit, dan ia sabar sambil berusaha untuk sembuh, maka Allah akan mengangkat dosa-dosanya. Pak Hatta suami bu Sukma pun berdo’a dengan khusyu. Ia memohon kiranya Allah mengangkat penyakit istrinya. Ia yakin semua penyakit ada obatnya. Allah yang memberi penyakit, Allah pula yang memberi obatnya. Sedikit banyak ia mengkaji al Quran dengan gurunya. Ia tahu setiap musibah pasti ada hikmahnya.

Setelah menunggu hasil laboatorium kurang lebih satu jam, akhirnya dokter memanggil pak Hatta ke ruang kerjanya. Di ruang yang serba putih itu, dokter menjelaskan hasil laboratorium darah bu Sukma dan kemungkinan penyakit yang diderita istrinya. Dokter rumah sakit menyarankan untuk  melanjutkan pemeriksaan ke rumah sakit jantung yang ada di daerah Jakarta Barat. Karena dari hasil laboratorium darah, diketahui kadar kollesterol bu Sukma cukup tinggi. Ditambah lagi berat badan bu Sukma yang melebihi normal. Ada indikasi terkena penyakit jantung, tapi harus lebih lanjut diobservasi  di rumah sakit tersebut.

Pak Hatta mendengarkan dengan seksama penjelasan yang diuraikan oleh dokter RS tersebut. Ya … pak Hatta teringat dengan kebiasaan istrinya yang kurang suka berolah raga. Boleh dibilang malas sekali untuk berolah raga. Jika dinasehati untuk melakukan olah raga, bu Sukma selalu mengatakan: “kan bebenah rumah juga sudah olah raga pah”. Pola makan bu Sukma pun kurang baik. Ia suka sekali yang namanya gorengan. Entah itu goreng tempe, tahu, pisang atau gorengan lainnya. Pokoknya yang namanya makanan di goreng, bu Ati suka sekali. Ia lupa bahwa usianya sudah tidak muda lagi, sudah diatas kepala empat. Astaqfirullah …

Akhirnya dengan diantar ambulance, malam itu juga bu Sukma didampingi suaminya menuju ke rumah sakit jantung. Dokter jantung memeriksa dengan teliti keadaan tubuh bu Sukma. Dari hasil EKG (elektronic cardio gram) dan hasil ST SCAN, diketahui bahwa ada sedikit penyumbatan di pembuluh darah yang akan masuk menuju jantung di bagian kiri. Penyumbatannya tidak terlalu tebal, masih sedikt dan tidak terlalu keras. Subhanallah .. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia begitu sempurna. Termasuk organ-organ di dalam tubuh kita yang dibuat sedemikian rapih. Ternyata dari pola makan bu Sukma yang tidak benar dan malas berolah raga, menyebabkan kadar kolesterol meningkat. Akibat kadar kolesterol meningkat menyebabkan penimbunan lemak di dalam saluran darah. Yang semakin lama semakin menumpuk dan menyebabkan aliran darah tidak lancar. Akibatnya supplai oksigen ke jantung pun terganggu. Pantas saja bu Sukma sulit sekali bernafas. Untuk mengambil satu tarikan nafas saja, harus mengeluarkan ekstra energi, sehingga tensi darah pun meningkat. Allah tidak pernah mendzolimi hambanya, tetapi hambanyalah yang menzolimi dirinya sendiri. Alhamdullillah ya Robb … Engkau telah memberi tahu  penyakit yang hamba derita, lirih bu Sukma. Dokter menyarankan agar bu Sukma dirawat beberapa hari guna pengobatan lebih lanjut.

Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya bu Sukma dizinkan pulang. Ia bersyukur kepada Allah, karena telah memberinya kesembuhan. Sehingga ia dapat memperbaiki diri akan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dulu, terutama mengenai kesehatan. Bu Sukma jadi teringat firman Allah dalam surat Asy Syuura 42 ayat 30: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan2mu)”.

Sekarang bu Sukma menyadari bahwa serangan jantung yang menimpa dirinya adalah karena kesalahan dirinya sendiri. Ia jarang sekali olah raga, makan tidak teratur, komposisi gizi tidak seimbang, terlalu banyak lemak dan karbohidrat. Berat badan terlalu berlebih. Di balik semua itu ia mengambil hikmahnya. Apa hikmahnya? … Kini setiap akan makan, ia berfikir lebih dulu, apa makanan ini perlu untuk tubuh saya? Apakah porsi makanan ini tidak terlalu banyak untuk saya? Apakah komposisinya sudah seimbang? … dan seterusnya. Hal ini tidak difikirkan sebelum dirinya terkena serangan jantung. Jika dulu, ketika melihat makanan langsung hajar saja bleh, yang penting kenyang. Kalau sekarang, pikir dulu sejenak, baru makan. Bukankah Allah menciptakan akal untuk dipergunakan? … Berapa banyak ayat yang berakhir dengan affalaa tatafaqqaluun? … Apakah kamu tidak memikirkan? … Afala ta’qilun? … Apakah kamu tidak memahami? …

Firman Allah yang lain dalam Q.S. At Taqabuun 64 : 11 Allah berfirman: ”Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Kini bu Sukma menjadi orang yang lebih penyabar dibandingkan dengan sebelum kena serangan jantung. Betapa tidak, ia besyukur ketika serangan itu terjadi, suaminya ada disampingnya. Kejadiannya malam hari dimana lalu lintas sudah agak sepi. Apa jadinya bila ia sendiri di rumah dan kejadiannya siang hari, ketika lalu lintas sangat padat. Mungkin ia akan terlambat tiba di rumah sakit dan tidak tertolong. Innalillah … Kini hari-hari bu Sukma diisi dengan hal-hal yang bernilai ukhrowi. Dia juga selektif sekali memilih teman. Waktunya diisi dengan memperbaiki diri dengan cara belajar mengkaji al Quran dan sedikit-sedikit diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai penebus dosa karena telah banyak melalaikan amanah berupa kesehatan yang Allah titipkan,  ia kini mulai belajar menulis artikel. Bu Sukma berfikir, makin hari usianya makin bertambah dan makin dekat perjumpaan dengan sang Khalik. Ia  ingat pesan guru ngajinya, bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama” (Hadist). Bu Sukma berharap kelak tulisan-tulisannya akan dapat mengajak orang lain untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada sang Pencipta.  Bukankah hidup ini tujuan akhirnya adalah berjumpa dengan kekasih tercinta, kekasih yang tidak pernah ingkar janji, kekasih yang Maha Kasih, kekasih yang selalu memberi apa yang kita inginkan. Dialah Allah Yang Maha Segala-galanya. GOD IS EVERYTHING. Bukankah dakwah itu tidak hanya dengan lisan dan perbuatan saja? Tapi juga dengan tulisan atau bil qolam? … Bukankah tulisan bisa menembus ruang dan waktu? … Berapa banyak buku yang telah kita baca tetapi kita tidak kenal dan bahkan penulisnya sudah wafat? … Mudah-mudahan dari tulisan-tulisan kecil bu Sukma dapat menjadi amal sholeh yang bermakna di hadapan Penguasa Jagat Raya ini. Semoga! .. Selamat berjuang bu Sukma.

Yaa … Muqollibbal qullub, tsabit qolbii ala dinik (Yaa Allah yang membolak balik hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu). “Wahai seluruh manusia, kamu adalah orang2 yang butuh kepada Allah dan Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (Q.S. Fathir 35:15)

Yaa Allah … Engkaulah As-Salam, dari-Mu bersumber As-Salam, dan kepada-Mu pula kembalinya. Hidupkanlah Kami Yaa Allah di dunia ini dengan As Salaam, dan masukkanlah Kami kelak di negri As-Salam (syurga), Maha Suci Engkau, Maha Mulia Engkau, Yaa Zal Jalaal wal ikraam.

******

Dengki, cape dech …

24 Jun

Manusia terdiri dari dua bagian, yaitu jasmani dan rohani. Dua-duanya butuh makanan, jasmani butuh makanan yang bergizi yang terdapat zat karbohidrat, protein, lemak, serat , vitamin dan lainnya. Jika kebutuhan gizi tidak mencukupi maka tubuh akan merasakan kekurangan gizi, sebaliknya jika asupan gizi berlebihan tubuhpun akan mengalami penyakit, seperti  kelebihan lemak dalam darah, kadar kolesterol meningkat yang  menyebabkan penyakit jatung, hipertensi, atau gangguan penyakit dalam lainnya. Makanan bergizi diperlukan tubuh, dengan ukuran sedang-sedang saja,tidak kekurangan dan tidak berlebihan . Allah berfirmaN … makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al  A’raf  7:31).

Rohani kita juga butuh makanan, seperti sholat, puasa, baca al-quran dengan makna,  berbuat baik kepada orang tua, teman, sayang kepada semua ciptaan Allah. Pokoknya semua amal soleh.  Apabila rohani kita kurang asupan makanan , maka akan timbul penyakit-penyakit rohani  seperti   iri, dengki, sombong, ujub, takabur dan lain-lain.

Salah satunya penyakit rohani yang dapat memakan kebaikan seperti bara memakan kayu bakar  (Hadist) adalah dengki. Dengki lebih parah dari iri, kalau iri hanya tidak suka melihat orang lain lebih dari dirinya,tapi jika seseorang  dengki  maka ia susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah . Pokoknya yang namanya dengki itu bahaya sekali.Orang yang punya sifat dengki kelihatan dari wajahnya .Raut wajah pendengki tidak pernah cerah, kalaupun  tersenyum,  senyumnya sinis, alias tidak ikhlas, akibatnya wajahnya tidak simetris. Cape dech …

Bu Sukma tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta bagian selatan. Ia aktif mengaji  dan mengadakan pengajian di rumahnya satu  bulan sekali . Nara sumber yang ia panggil sesuai  dengan bidang ilmunya masing-masing. Bu Sukma dan suaminya, pak Hatta bertekad ingin bersedekah ilmu kepada tetangga disekitar tempat tinggalnya. Mereka ingat pesan guru ngajinya, bahwa rumah yang dipakai mengaji akan dikelilingi malaikat sehingga berkah . Amin …

Bu Sukma dan suaminya biasanya mengadakan pengajian setiap Sabtu ke 4 setiap bulan, hari Sabtu dipilih, karena pak Hatta suaminya juga bisa ikut mendengarkan tausiah yang diberikan oleh nara sumber. Sebagai seorang muslim, mereka sedang belajar mengkaji al-Qur’an dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bu sukma dan pak Hata menyiapkan suguhan ala kadarnya kepada jama’ah yang hadir di majlis ilmu dirumahnya setiap bulannya. Bukannya mereka tamu yang harus di hormati, sesuai dengan akhlak islam? … Tetapi apa komentar bu Ria, tetangga bu Sukma yang pendengki itu. Heh … pengajian kok pake makan-makan segala , kaya pejabat aja, katanya. Dia lupa atau mungkin tidak tahu bahwa setiap uang yang diinfakan di jalan Allah akan diganti dengan yang lebih baik lagi sebanyaknya 700x lipat atau bahkan  lebih. Suami istri yang soleh itu sedang mengamalkan isi Q.S Al Baqarah 2 : 261. Mereka yakin, seyakin-yakinnya bahwa Allah akan mengantinya. Janji Allah pasti benar, dia tidak pernah mengikari janjinya.

Cacian atau makian adalah do’a. Bu Ria sedang mendo’akan pak Hatta  agarmenjadi pejabat. Semoga do’a BU Ria didengar oleh Allah dan pak Hatta menjadi pejabat yang di ridhoi oleh Allah, sayang kepada sesamanya, tambah rajin beribadah dan berinfak serta berakhlak mulia.  Amin ya Robbal ‘alamin.

Bu Sukma juga sedang belajar mengamalkan isi Q.S  Al A’raf 7:31, “Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, … Bu Sukma membaca tafsir ayat ini, masjid disini, bukan hanya masjid dalam arti khusus saja berupa bangunan,t api juga masjid dalam arti luas yaitu persada bumi ini. Bu Sukma berusaha untuk selalu berpakaian rapih baik di dalam maupun jika keluar rumah, menghadiri pengajian atau di rumah atau aktivitas lainnya. Tapi apa komentar tetangga pendengki itu ? … Mungkin mulutnya gatal ya kalau tidak komentar. Huh  … seperti peragawati aja,  pakai baju ko ganti-ganti segala. Emangnya mau sholat ke masjid ya.? … suatu saat ia bertanya. Ya iya dong … masa ya iya deh … !

Ibu rumah tangga tidak harus mengenakan  daster terus di rumah. Daster itu kan dari bahasa Inggris yang artinya debu  (dust). Jadi daster  berarti baju yang dikenakan ketika ngelap debu kalau kita sedang bebenah. Jika sudah selesai bebenah, ya diganti. Masa pake daster terus seharian, kecian deh lho … Bu Ria tidak tau bahwa Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan.  Allah al-Jamil, kasihan ya jadi orang jahil (bodoh), selalu buruk sangka terhadap orang lain. Setiap melihat sesuatu langsung su’udzon .Y a Allah, ampunilah hamba-hamba mu yang jahil  … berilah cahaya ilmu agar mereka dapat menyikapi segala sesuatu dengan baik.

Walaupun tetangganya pendengki , bu Sukma tetap baik kepada ibu rRa,ia ingat pesan dalam al-Qur’an bahwa sesama muslim itu bersaudara . Saudara kita yang satu ini sedang sakit rohaninya, karena tidak pernah meminum kapsul penambah energi positif berupa siraman rohani, pengajian, baca-bacaan Islami  .Bu Ria sibuk memperhatikan orang lain atau tetangganya untuk hal-hal yang tidak penting , sehingga ia lupa akan kekurangan dirinya. Kasihan ya bu RIa , waktunya habis untuk mengurusi urusan yang bukan urusannya . Kalau uang kita hilang ,bisa diganti atau di cari lagi. Akan tetapi kalau waktu kita hilang dengan percuma, tidak akan bisa kembali,dan tidak bisa diganti dengan apapun . Karena waktu lebih berharga dari emas.

Kini usia bu sukma mendekati setengah abad, usia yang sudah mendekati magrib. Tapi semangat hidup untuk memperbaiki diri tetap tinggi. Ia ingin di akhir hidupnya nanti semua kesalahan masa lalunya sudah terampuni oleh Allah SWT. Bu sukma bercita-cita ketika ia mati menghardap Penguasa Jagad Raya ini,sudah tidak ada hutang kepada sesama, baik hutang materil apalagi moril. Semoga apa yang di cita-citakan bu Sukma dan pak Hatta dikabulkan Allah.  Amiin  … ya mujibassailin …

Dan katakanlah, “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” Dan katakanlah, yang benar  telah datang dan batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batill itu adalah sesuatu  yang pasti lenyap. (QS Al-Israa’ 17: 80-81).

Sholawat & Senyum

24 Jun

Menurut ilmu kesehatan, bila kita tersenyum membutuhkan 17 otot. Sedangkan jika kita cemberut membutuhkan lebih banyak lagi otot, yaitu 34 otot. Pantas saja Rasul mengajarkan kita untuk selalu berwajah cerah alias tersenyum. Menurut hadist, senyum adalah sedekah. Sedekah yang tidak perlu  mengeluarkan biaya. Menurut Ary Ginanjar Agustian(ESQ), senyum yang ikhlas adalah senyum yang simetris, yaitu senyum yang ujung bibir di tarik 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri. Rasul yang mulia selalu berwajah cerah. Siapapun yang memandangnya, pasti merasakan sejuk di hati. Alangkah indahnya jika kita umat Islam semua selalu berwajah cerah, senyum dan ramah terhadap lingkungan. Allah berfiman dalam QS. Al Anbiya 21:107,  “Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.“ Rasul diutus oleh Allah SWT ke muka bumi ini untuk membawa rahmat (kasih sayang) kepada seluruh isi bumi ini. Isi bumi ini terdiri dari berbagai macam makhluk, ada manusia, hewan, tumbuh–tumbuhan. Manusia terdiri dari berbagai bangsa dan suku serta berbagai keyakinan. Kita umatnya diperintahkan mencontoh apa yang dilakukan Rasul. Rasul tak pernah membedakan seseorang dari agamanya. Beliau tetap menghormati orang yang berbeda agama dan keyakinannya. Tetangga beliau, seorang Yahudi tetap beliau hormati, walaupun tetangga Yahudi itu jahat kepada rasul. Setiap Rasul akan menunaikan sholat ke Masjidil Haram, Yahudi itu selalu menggangunya. Bencikah Rasul, dendam-kah beliau? … Tidak sama sekali, Rasul tidak pernah marah. Suatu hari Rasul pergi ke masjid, tetapi si  tetangga Yahudi itu tidak menggangunya, kemana-kah gerangan dia? …Teryata menurut informasi, tetangga Yahudi itu sedang sakit. Rasul yang mulia datang menjenguk Yahudi itu dengan membawa oleh-oleh kurma kwalitas terbaik. Ketika sampai didepan pintu rumah  Yahudi, alangkah takutnya si Yahudi tersebut. Kaget bukan kepalang, ia takut Rasul akan membalas apa yang pernah ia lakukan kepada Rasul selama ini. Tetapi … ternyata tidak. Rasul yang baik hati datang untuk menjenguk tetangga yang sedang sakit dan membawakan oleh–oleh  kurma kwalitas nomor wahid. Subhanallah … begitu kagum Yahudi itu pada Rasulullah. Apakah seperti ini ajaran agama-mu Muhammad? … tanya Yahudi itu. Rasullullah yang mulia hanya menjawab dengan senyum. Seketika itu juga Yahudi itu masuk Islam, berikrar mengucapkan dua kalimah syahadat, masuk Islam tanpa pedang, tanpa paksaan, tanpa dos-dos indomie atau sembako, tanpa kekerasan, damai dunia dan akhirat .

Lalu bagaimana dengan kita yang sering bersholawat atas Nabi Allahumma Sholi ‘alla Muhammad, tapi akhlak kita tidak mencontoh Nabi, Nabi yang mulia, pemaaf  tapi kita pendendam. Teman kita pernah berbuat salah kepada kita, tapi kita ungkit–ungkit terus, di ma’afkan tapi diceritakan lagi ke orang lain, berulang–ulang kali, astaghfirullah … Kita mengaku umatnya Nabi Muhammad, tapi kita tidak suka melihat orang lain maju, kita dengki melihat teman kita yang ada kemajuan dari hari ke hari, baik dari segi ilmu maupun materi. Kita selalu sibuk dengan aib orang lain, sehingga kita lupa dengan aib kita sendiri. Padahal Allah berfirman dalam QS. At Tahrim ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarntya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Kita sering bersholawat, tapi senyum kita kepada teman satu majlis taklim masih sinis. Kita sering bersholawat tapi wajah kita masih tidak mengenakkan jika di lihat kawan, kita sering bersholawat tapi masih suka menggunjing guru ngaji, masih buruk sangka sesama teman, bahkan sesama pengurus majlis taklim! Na’uzubillah … kita sering bersholawat tapi hanya di bibir saja, hanya lip gloss hiasan bibir, tidak menghujam ke dalam qolbu. Rasul yang mulia rajin berinfak baik di waktu lapang maupun sempit. Tapi kita yang sering bersholawat, diminta sumbangan Rp 20.000,- saja untuk santunan anak yatim, banyak sekali pertanyaannya. Untuk apa? … Kenapa ngga pake uang kas? … Kan sekarang lagi tahun ajaran baru, perlu  beli buku? … Suami saya kena PHK ? … Anak saya masuk TK?.. dan sebagainya. Begitulah fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Kita yang mengaku umat Nabi Muhammad dan sering bersholawat kepadanya, sangat sulit untuk berinfak. Padahal berinfak, membelanjakan harta di jalan Allah, pasti Allah  akan menggantinya dengan yang lebih baik bahkan 700x lebih, baik berupa materiil maupun moril (Q.S.  Al Baqarah 2 : 261). Bukankah dengan berinfak kita mengundang rahmat Allah? … Bagi yang lapang, kita menjadi hamba yang bersyukur dan harta kita ditambah keberkahannya, bagi yang sempit dengan berinfak akan mencukupi kebutuhanya, jadi dua-duanya baik di mata Allah  (Q.S. Al Imran 3 : 134).

Rasul yang mulia, jika bicara ucapanya bermamfaat, tidak sia–sia. Bagaimana dengan kita yang mengaku sering bersholawat tapi kadang–kadang ucapan kita tidak ada manfa’atnya. Kita suka marah kepada anak, tapi marah yang tidak jelas. Kita suka ngobrol dengan teman tapi tidak ada faedahnya, waktu kita terbuang dengan sia–sia, usia kita bergulir begitu saja tanpa makna.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya .“ (QS. Al Ahzab 33 : 56). Sholawat Allah kepada  nabi untuk memberi rahmat , shalawat malaikat untuk nabi, memintakan ampunan, sholawat orang mukmin kepada nabi berarti berdo’a supaya diberi rahmat .

Pembaca yang budiman, marilah kita sama-sama intropeksi diri (terutama saya), apakah kita yang mengaku umatnya nabi Muhammad saw sudah mengikuti ajaranya? … Sudahkah seluruh ajaran yang beliau sampaikan kita laksanakan? … atau baru setengahnya? … atau baru seperempatnya? … atau belum sama sekali??? … Jika kita menyakiti teman sesama muslim atau mahkluk yang lain, berarti kita belum melaksanakan ajaran yang Allah berikan melalui Rasulnya, karena menyakiti makhluk Allah sama saja dengan menyakiti Rasul. Karena Rasul tidak mengajarkan hal itu kepada kita .

Rasul sangat santun sekali, beliau tidak membedakan antara pembantu dengan kepala negara. Beliau menghormati kepala negara sama dengan penghormantan beliau kepada pembantunya. Anas r.a.  pembantu beliau mengisahkan, selama menjadi pembantunya beliau tidak pernah marah jika pribadi  beliau disinggung. Beliau marah jika agama Islam di ganggu. Beliau menomor satukan Allah di atas segala–galanya. Begitu beda dengan kita ! Jika pribadi kita disinggung,  langsung reaktif, marah ! Tapi jika Allah di hina, kita tenang–tenang saja bagai katak dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

Bagaimana dengan kita yang sering bersholawat? … Ketika ada acara Isra’  Mi’raj,  kita latihan sholawat untuk tampil di masjid tempat tinggal kita. Kita buat tim sholawat yang terdiri dari 10 orang. Kita atur suara 1…2…3, latihan pun di lakukan agar kita tampil maksimal. Tapi ma’af ketika latihan shalawat apa yang di lakukan ? … Latihan sholawat sambil merokok, melanggar waktu sholat bahkan tidak sholat, menghibahi guru ngaji yang memakai gelang emas ketika mengajar, membongkar aib sesama teman pengurus MT ? … Apa itu yang di hasilkan dari ahlak yang sering bersholawat ? … Apa itu yang Rasul inginkan ? … Tentu saja tidak, Rasul menginginkan umatnya untuk saling menyanyangi, menyayangi teman seperti menyayangi dirinya sendiri, wajah yang selalu ceria itulah yang Rasul ajarkan. Menutup aib sesama teman itulah yang Rasul inginkan. Itulah bukti seringnya kita bersholawat. Dalam salah satu hadistnya Rasul bersabda: “Muslim dengan Muslim lainnya bersaudara.”

Yaa  Rabbanaa …  ampunilah dosa hamba dan  saudara-saudara hamba yang belum dapat besholawat dengan benar kepada nabi-Mu. Andai Rasul masih hidup, tentunya beliau sedih sekali melihat kaum wanita yang sering bersholawat, berbusana muslim seragam dibeli di Tanah Abang, suara melengking–lengking dengan semangat tinggi tapi akhlak-nya jauh dari yang engkau contohkan. Rasul sangat sedih sekali ketika kita tidak mau tersenyum pada saudara sendiri,  sariawan ya? … atau tidak sikat gigi ?  … atau sakit gigi? … atau darah tinggi ? … kecian deh loch …

Pembaca  yang budiman, marilah kita sama-sama merenung apakah shalawat yang kita yakini dan kita ucapkan sudah mencontoh akhlak yang Rasul contohkan? … Minimal senyum setiap saat, dalam keadaan apapaun, susah, senang atau menghadapi kejadian apapun yang tidak kita harapkan .

Semoga kita menjadi umat  Islam yang selalu membawa kedamaian, dengan wajah kasih sayang, pada saudara-saudara kita yang se-iman maupun umat –umat yang lain sehingga non muslim akan mendekat kepada kita bukan karena materi tetapi dengan ahlaqul karimah akhlaq yang mulia seperti yang baginda Rasul contohkan. Amiin … Walllahu ‘alam.

Allah Menegur-ku ….

23 Jun

Kejadian ini sudah berlalu kurang lebih empat tahun yang lalu. Suatu hari setelah mengikuti kegiatan Dharma Wanita di kantor, saya pulang naik kereta api. Kenapa saya pilih kereta api, bukan naik bis atau taxi? … Jawabannya adalah karena waktu yang ditempuh lebih cepat dan biayanya murah. Karena waktu menunjukkan pukul 11.45, maka sudah tidak ada lagi jadwal kereta express ber-ac. Kereta express ber-ac hanya ada pada waktu pagi dan sore hari  di waktu-waktu orang sibuk berangkat dan pulang kerja.

Tiba pada antrian pembelian karcis, giliran saya membeli karcis KRL, tiga ribu lima ratus rupiah dengan  jadwal kedatangan kereta  pukul 12.20.  Masih ada waktu untuk menunggu. Saya turun ke lantai bawah melalui tangga sebelah selatan stasiun. Saya berdiri tidak jauh dari ujung tangga turun tadi. Pandangan saya tebar ke seluruh bagian, barangkali ada teman yang mau pulang ke arah stasiun Sudimara. Enak juga jika ada teman bicara, bisa sharing, pikir saya dalam hati. Ternyata tidak ada satu pun yang saya kenal.

Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada seorang wanita yang berdiri kira-kira dua meter di sebelah kanan saya. Wanita itu berperawakan ramping, dengan rambut dikuncir satu kemudian ditekuk ke belakang. Mengenakan blouse lengan pendek motif bunga-bunga kecil berwarna dominan biru, dipadu dengan rok sepanjang lutut warna hitam. Wanita itu membawa tas tangan hitam, diletakkan di ketiak sebelah kiri dan dijepit. Sepintas tidak ada yang aneh pada diri wanita itu. Tetapi jika diperhatikan lebih jauh  maka, ternyata wanita itu berbicara sendiri. Semakin saya perhatikan, semakin yakin saya, bahwa wanita itu memang bicara sendiri. Karena dia tidak memakai handset ataupun bicara dengan lawan bicara. Tidak ada orang lain yang berdiri dekatnya. Kebanyakan calon penumpang berdiri masing-masing sambil memegang barang bawaannya sekuat-kuatnya. Maklum daerah ini terkenal dengan copetnya. Saya berfikir, mungkin wanita tersebut stress, sehingga bicaranya pun tidak terkendali.

Pengumuman-pengumunan …. Kereta KRL jurusan Serpong sebentar lagi datang. Para penumpang dimohon bersiap-siap. Hati-hati dengan barang bawaan masing-masing. Begitu bunyi pengumuman yang terdengar dari pengeras suara di stasiun Tanah Abang. Dua menit kemudian kereta KRL pun datang, dan berhenti tepat di depan wanita itu berdiri.

Pelan-pelan penumpang jurusan Serpong, menaiki kereta api dan mencari tempat duduk. Saya duduk di bangku sebelah pinggir dekat pintu, dengan asumsi angin sepoi-sepoi semilir terasa. Maklum kereta ekonomi, jadi pintunya terbuka terus, he he he … Sambil menunggu kereta berangkat, saya keluarkan sebuah buku  dari dalam tas punggung warna merah. Baru sebentar membaca buku, tiba-tiba bunyi pluit tanda kereta akan berangkat terdengar. Pelan-pelan kereta melaju ke arah selatan. Buku bacaan kembali saya masukkan ke dalam tas. Kembali tas punggung merah saya letakkan di pangkuan. Sambil menikmati semilirnya angin berhembus melalui pintu kereta, saya pejamkan mata. Belum lama kereta berjalan, tiba-tiba secepat kilat, seorang lelaki menjambret tas punggung merah yang ada di pangkuan saya, kemudian dia loncat dari kereta dan lari kencang sekali lalu meloncati pagar tembok stasiun. Saking kagetnya,  saya berteriak kencang sekali. Kereta berjalan mulai melaju, tidak mungkin saya meloncat turun untuk mengambil tas merah yang dijambret itu. Penumpang lain menenangkan saya.

Saya perhatikan penjambret itu sepertinya sudah professional sekali. Dia dapat meloncati tembok pembatas stasiun yang cukup tinggi.  Di dalam tas punggung merah itu ada dompet, kunci mobil, dua buah ATM, dua handphone dan surat-surat penting lainnya. Dengan kebaikan hati salah seorang penumpang yang  mau meminjamkan handphone-nya, saya bel suami, dan menjelaskan bahwa tas saya dijambret dan tolong diblokir ATMnya. Sekarang saya bingung, nanti setelah  turun di stasiun Sudimara, naik apa? .. Seperti tahu jalan pikiran saya, tiba – tiba salah  seorang ibu yang duduk di sebelah kanan saya, menawarkan jasa baiknya, bahwa dia juga akan menuju ke arah rumah saya,  kebetulan tempat tinggalnya bersebelahan dengan komplek saya. Alhamdulillah…

Tiba di rumah langsung saya sholat Dzuhur , kemudian saya berzikir sambil merenung. Saya ingat sebuah ayat dalam al Qur’an yang berbunyi: “Apabila manusia terkena musibah, kemudian ingat Allah, maka Allah akan tunjukkan kesalahannya.”  Cukup lama saya merenung , dan Alhamdulillah saya mendapatkan jawabannya., Ternyata tadi ketika menunggu kereta di stasiun Tanah Abang, hati (qolbu) saya kotor ketika melihat seorang wanita yang bicara sendiri. Saya berburuk sangka terhadapnya, padahal saya tidak kenal.  Berburuk sangka itu dosa (QS. Al Hujurat 49:12). Bukannya berzikir, malah memperhatikan orang lain. Dasar kurang kerjaan. Saya malu ya Allah, sudah pergi haji, sudah berusia diatas empat puluh tahun, sudah berjibab pula, tapi hati ini masih kotor.  Allah menegur-ku dengan cara-Nya. Subhanallah, … Robbi … Engkau selamatkan hati hamba yang hina ini. Bimbing hamba untuk selalu taat dijalanMu serta berkahilah sisa umur hamba. Tidak mengapa tas dijambret, tapi iman di hati masih tetap mengakar kuat.  Amiin ….

THANK YOU ALLAH

23 Jun

Sudah hampir dua puluh lima tahun saya menjalani hidup berumah tangga, bersama suami. Tak terasa waktu begitu cepatnya berlalu. Rasanya baru kemarin saya mendengar janji suci suami dihadapan penghulu dan para saksi. Rasanya baru kemarin pula saya melahirkan anak pertama. Rasanya baru kemarin pula saya mengantarkan anak pertama ke kelompok bermain. Rasanya … rasanya … dan banyak lagi rasa-rasa yang lain.

Dulu ketika akan menikah, saya minta izin untuk dibolehkan berkarir, kelak setelah berumah tangga. Waktu itu calon suami mengizinkan. Karena suami setuju dengan permintaan saya, maka saya mau diajak menikah. Setelah menikah, rupanya janji tinggallah janji. Ternyata suami saya ingkar janji. Beliau tidak mengizinkan saya berkarir di luar rumah. Alasannya sederhana, katanya: “saya tidak mau anak-anak besar dengan pembantu”. Kamu boleh beraktivitas apa saja, selama itu positive, asalkan tidak terikat dengan waktu.  Maksud suami saya, jika saya bekerja di kantor, otomastis waktu saya lebih dari 12 jam di luar rumah. Waktu untuk anak-anak tinggal sisa. Sedangkan masa anak-anak adalah masa-masa yang paling indah. Dalam dunia pendidikan, ada yang namanya golden age (usia-usia emas) yaitu sekitar 1 sampai 3 tahun. Masa ini, adalah masa-masa meniru bagi anak-anak. Jika setiap hari waktunya bersama pembantu, maka yang ditiru juga kebiasaan-kebiasaan pembantu. Andai saya meninggalkan anak-anak pada masa iitu, dan sesuatu terjadi diluar pengetahuan saya, apa yang akan terjadi kelak. Suami saya bersikukuh dengan pembagian tugas, yaitu saya menjadi mentri dalam negri sedangkan suami menjadi mentri luar negri. Dengan sedikit rasa kesal, akhirnya saya terima juga pembagian tugas itu.

Subhanallah … waktu berjalan seperti kilat, sekarang usia anak pertama saya 22 tahun, yang kedua 20 tahun dan yang terakhir 17 tahun. Alhamdulillah mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah, punya kepribadian kuat, sehat jasmani dan rohani serta tidak terpengaruh dengan pergaulan yang tidak baik. Kadang Allah menegur saya melalui nasehat-nasehat mereka. Pernah suatu ketika, anak pertama saya, menasehati saya dengan lembut: “Mah, jadi orany harus sabar, sabar yang tidak terbatas. Masa pake kerudung, marah-marah sih? … Malu dong sama kerudungnya “ Saat lain, putri bungsu saya menasehati, “Mah, pake bajunya ngak matching sama kerudungnya, ganti dong … Kan Allah Maha Indah dan menyukai keindahan.”

Thank You Allah, terima kasih ya Allah, Engkau titipan amanah-amanah-Mu yang qurrota ‘ayun, tiada ternilai dibanding intan permata. Disaat ibu-ibu lain yang pusing tujuh keliling karena putranya tidak pulang ke rumah, di saat ibu-ibu lain bingung karen anak gadisnya lari dengan pacarnya, di saat orang tua – orang tua lain terpaksa menikahkan anaknya karena sudah … Alhamdulillah anak-anak saya sedang membaca buku, membantu memasak ataupun bercerita.

Thank You Allah, Engkau titipkan suami yang mengerti dan menyayangi keluarganya. Andai dulu, saya tidak mematuhi anjuran suami, apa yang akan terjadi kini? … Mungkin saya sedang pusing tujuh keliling seperti ibu-ibu lain.

Saya sangat bersyukur kepada Allah, yang telah mempertemukan saya dengan suami melalui sebuah pernikahan. Semoga pernikahan ini membawa kebaikan atau manfa’at bagi lingkungan sekitar. Yaa Muhaimin … Yang Maha Pemelihara … Peliharalah keluarga-keluarga saudara-saudara kami, untuk selalu ta’at dalam perintahMu, serta jauhkanlah dari mara bahaya. Selamat ulang tahun pah, semoga berkah Allah selalu menemani di setiap aktivitas. Amin …